CERPEN

CERPEN


Hyunri masih berdiam diri. Dia tidak peduli sama sekali, walaupun hujan membasahi tubuhnya.
“Hyun, ayo pulang. Nanti kau sakit. Eomma-mu pasti sudah menunggu.” kata seorang namja yang setianya menunggunya, Yongwoo.
“Tidak, oppa. Aku tak mau pulang.” jawabnya
“Apa kau ingin mati kedinginan? Hanya karena patah hati kau hanya berdiam diri disini?”
“Dengar, oppa. Dongwoo itu cinta pertamaku. Aku sudah lama berpacaran dengannya. Tapi dia memutuskanku demi yeoja lain yang tidak lain adalah Hyeri, sahabatku sewaktu kecil. Hatiku sangat sakit oppa, kau tak akan mengerti perasaanku.” Hyunri kembali terisak
“Aku mengerti, sangat mengerti. Tapi, apa kau ingin terus menangisinya disaat dia sudah punya yeoja lain? Sadarlah.”
Hyunri hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Yongwoo.

“Kau tahu tidak?”
“Apa?”
“Kalau dilihat-lihat, Dongwoo itu biasa saja. Aku jauh lebih ganteng darinya.” kata Yongwoo sambil bercanda. Dan berhasil membuat Hyunri tersenyum.
“Lalu, mengapa kau tak punya pacar hingga saat ini oppa?”
“Aku sudah punya seorang yeoja yang kusuka.”
“Siapa namanya? Bolehkah aku berkenalan dengannya?”
“Namanya itu rahasia. Dan hanya ada disini..” kata Yongwoo sambil memegang dadanya.
“Huh, dasar oppa!” cibir Hyunri.
“Ayo kita pulang oppa.” kata Hyunri sambil merebut payung yang dipegang Yongwoo lalu berlari.
“Hey! Tunggu aku Hyun.” jawab Yongwoo sambil berlari.
Rumah Hyunri
“Hyun, maafkan aku. Aku sudah tidak mencintaimu. Aku sudah tidak bisa memaksakan karena hatiku sudah untuk Hyeri.”
Hyunri mengingat kata-kata Dongwoo itu tadi siang. Ia pun memeluk boneka pemberian Dongwoo sambil menangis. Sakit, perih, itu yang ia rasakan. Mengakhiri hubungan, yang terbilang sudah lumayan lama, 2 tahun. Tapi apa boleh buat, Ini sudah terjadi.
Esoknya ketika di sekolah, ia melihat Dongwoo dan Hyeri sedang berduaan. Rasanya ia ingin menangis. Tapi ia menahannya.
“Kau tak apa, Hyun?” kata Ji Hwa, teman sebangkunya.
“Ne, Gwenchana..”
“Yakin?”
“Ne..”
Ketika waktu istirahat, Hyunri duduk di kantin sambil memesan beberapa makanan. Tiba-tiba ada seorang namja yang datang menghampirinya, yang ternyata adalah Yongwoo.
“Hey, Hyunri!”
“Oppa! Kau membuatku kaget!”
“Mianhaeyeo, Hyun. Aku hanya iseng, habis dari tadi kulihat kau melamun saja.”
“Ne, oppa. Ada apa kau kesini?”
“Memangnya tak boleh ya? Lagian aku ini kan alumni sekolah ini juga, aku ingin mengenang masa sekolahku dulu.”
“Kau ingin minum apa, oppa?”
“Tak usah..”
“Oppa, apakah yeoja yang kau suka itu sekolah disini juga?” tanya Hyunri
“Ne.”
“Apa dia seangkatan denganmu? Kalau dia seangkatan denganmu, aku tak tahu.”
“Mungkin, aku juga tak tahu.”
“Dasar, oppa!”
Yongwoo tertawa.
Sore hari, Yongwoo mengajak Hyunri jalan-jalan.
“Mengapa kau mengajakku jalan-jalan oppa?” tanya Hyunri
“Aku rasa ini bisa mengobati rasa sakit hatimu Hyun. Carilah pekerjaan yang bisa menenangkan hati dan pikiranmu, Hyun.”
“Gomawo ne, oppa.”
“Ne..”
“Tapi, mengapa kau begitu baik padaku?”
“Karena kau dan Changmin sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Aku tak punya saudara Hyun, kau tahu itu kan?”
“Ne. Sekali lagi, Gomawo ne, oppa. Kau telah banyak berbuat baik padaku dan Changmin.”
“Ne, Cheonma Hyun.”
Pagi hari, Hyunri sedang menonton drama korea di salah satu stasiun TV.
“Kau tak apa Hyun?” tanya eomma.
“Aku tak apa eomma.”
“Sepertinya ada yang kau pikirkan?”
“Dia sedang memikirkan Yongwoo oppa, eomma.” ledek Changmin, adik Hyunri.
“Kau ini gosip saja.” jawab Hyunri sambil mencubit pipi Changmin.
“Benar. Hyunri eonnie berpacaran dengan Yongwoo oppa, eomma!”
“Tahu darimana kau ini?”
“Aku tahu dari Eun Bi ahjuma, ia bilang Yongwoo oppa menyukaimu.”
“Kau ini, kok temanmu ahjuma-ahjuma?”
“Biarin, memangnya tak boleh?”
“Changmin!”
“Eh, sudah-sudah. Kalaupun memang benar, eomma mengizinkan.” kata eomma.
“Kok aku jadi kepikiran omongan Changmin tadi ya? Apa benar, Yongwoo oppa menyukaiku?” gumamnya dalam hati.
Sore Hari, Hyunri mengunjungi Yongwoo.
“Eunbi ahjuma, apa Yongwoo oppa ada di dalam?”
“Ne, masuklah. Dia sedang tidur di kamarnya.”
“Gomawo, ahjuma.”
Hyunri pun memasuki rumah Yongwoo oppa. Dia melihat sudut-sudut rumah itu. Kamar Yongwoo ada di pojok sana.
“Kleek…” Hyunri membuka pintu perlahan.
Ia mengitari ruangan kamar sang oppa sambil melihat sudut-sudut ruangan tersebut, karena baru kali ini ia memasuki kamar Yongwoo oppa. Biasanya mereka hanya mengobrol di ruang keluarga.
Hyunri melihat foto-foto yang ada di meja belajar Yongwoo oppa. Ada beberapa foto yeoja yang sangat cantik, dan tak asing dilihatnya. Dirinya sendiri.
“Aku sangat bingung, mengapa banyak sekali foto-fotoku di meja Yongwoo oppa? Apa benar yang dikatakan Changmin kalau Yongwoo oppa menyukaiku?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba Yongwoo oppa terbangun.
“Hyun, ada apa kau kesini?”
“Tak apa oppa. Oppa, apa maksud semua ini? Mengapa banyak sekali fotoku di meja belajarmu?” tanya Hyunri mendesak Yongwoo oppa.
“Kau yakin ingin tahu apa maksudnya?”
“Ne, oppa.”
“Dan kau juga ingin tahu siapa yeoja yang kusuka selama ini?”
“Ne, oppa.”
“Inilah yeoja yang selama ini kusuka, dirimu Hyunri.” kata Yongwoo sambil mengambil foto Hyunri yang ada di meja belajarnya.
“Maksudmu apa oppa? Aku tak mengerti.”
“Aku… Menyukaimu, Hyun.”
“Sejak kapan kau menyukaiku?”
“Saat aku pertama kali melihat kau dan Changmin bermain saat pertama kali aku pindah ke rumah ini.”
“Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku, oppa?”
“Karena aku tahu pada saat itu kau masih berpacaran dengan Dongwoo, jadi aku hanya memendam rasa cintaku ini, Hyun.”
“Tapi oppa, memendam rasa cinta itu rasanya sakit sekali oppa.”
“Akan lebih sakit jika aku tau cintaku tak terbalas.”
“Ne, oppa.”
“Mmmmm… Jangan menyerah oppa! Kau pasti bisa!”
“Maksudmu Hyun? Kau memberi kesempatan padaku?”
“Ne, oppa.”
“Aku tak memaksa jika kau masih punya rasa dengan Dongwoo.”
“Anni, oppa. Rasa cintaku padanya telah tiada.”
“Tapi kau bilang, Dongwoo itu cinta pertamamu?”
“Ne. Cinta pertama itu tak penting oppa. Yang penting itu cinta terakhir.”
“Gomawo ne, chagi. Tapi, apa eomma-mu mengizinkannya?”
“Tentu saja. Dia sudah bilang padaku oppa.”
“Gomawo, Hyun.”
“Ne, oppa. You’re MY LAST LOVE!”

 

 

 

Biarkan Pergi


Binar-binar hujan itu masih ada, agaknya ia masih ingin berderai meninggalkan hawa dingin dari yang sedang hingga menusuk tulang, meninggalkan sepi dan perlahan meninggalkan keheningan malam. Malam ini agaknya berbeda bagi Rara, ada kesedihan terselip di bagian hatinya. Gadis dengan rambut diikat kuda itu masih tetap setia duduk di samping ranjang rumah sakit, menemani sang Ayah yang kini tergolek lemah seakan kehabisan tenaga. Bau khas rumah sakit merebak hingga menusuk indra penciuman Rara, dilihatnya tangan kekar itu dilengkapi selang infuse dan terdapat satu tabung oksigen di sisinya.
Dua hari lalu, Renaldi —ayah Rara harus dilarikan ke Rumah Sakit akibat penyakit Diabetes yang diderita beliau. Penyakit yang semakin lama semakin menjadi. Kurang lebih tiga tahun lamanya tubuh Renaldi harus bersahabat dengan penyakit bodoh itu. Perbedaan yang mencolok terlihat dari tubuh Renaldi yang dulu berisi kini seperti tinggal tulang saja, sangat kurus. Rara tak tega melihat kenyataan yang harus dijalani sang Ayah, jika ia ingat perjuangan sang Ayah yang harus tertatih hingga menemukan kata sembuh. Seperti luka lama yang kembali terkuak. Bagi Rara cerita itu akan selalu membekas di hatinya. Yang tak pernah Rara lupa Ayahnya selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Di balik senyum simpul yang sebenarnya menyimpan kata lelah, lelah lahir dan lelah bathin.
Di ruangan yang tak terlalu besar itu hanya ada mereka, ditambah kesunyian yang disuguhkan sang hujan, namun Rara selalu merasakan ketenangan saat hujan menyapanya. Rara beranjak dari duduknya, dan menoleh sebentar ke arah Renaldi, wajah menenangkan itu telah terlelap. Di mana ketentraman itu ada di alam mimpinya. Rara menghampiri jendela kamar rawat Ayahnya, dibukanya sedikit gorden hijau yang menutupi jendela itu. Rara menengadah sebentar, hujan, kau masih setia. Mungkinkah alam juga ikut berempati melihat keadaan Ayah? Pikir Rara. Senyuman itu akhirnya terukir walau hanya di sudut bibir merah Rara. “Aku harap hari esok akan lebih baik.”

“Ra, bangun. Kakak bawakan sarapan untukmu dan Ayah.” Suara khas perempuan menyelusup masuk ke telinga Rara, membuatnya sedikit bergeming. Ia menegakkan badannya, mengucek kedua matanya lalu mengerjap-ngerjapkannya. Di hadapannya telah berdiri perempuan yang ia sebut Kakak. Agaknya nyawa-nyawa Rara masih berkeliaran dan menunggu untuk kembali. Resa —kakak Rara, menyodorkan 1 mangkuk bubur ayam yang langsung membuat perut Rara bersorak.
“Terima kasih, Kak untuk buburnya,” Rara tersenyum “Kakak kapan pulang?” Rara membenarkan posisi duduknya, dan mulai menyantap sarapan paginya.
“Satu jam yang lalu. Ayah kelihatan nyenyak sekali.” Resa mengalihkan pandangannya ke arah Renaldi. Tak ada firasat apapun. Sebenarnya tak tega membangunkan Ayah, namun apa boleh buat, Ayah harus sarapan dulu. Waktu pagi yang bagus untuk mengisi tenaga. Pikir Resa.
“Ayah…” panggil Resa lembut, tangannya sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Renaldi.
“Ayah…” panggilnya lagi, hingga beberapa kali. Namun, apa? Renaldi diam, tak ada respon, gerakan kecil atau yang lainnya. Resa gemetar, begitupun Rara yang antusias di samping kakaknya itu sehingga mengacuhkan bubur ayam yang baru dilahapnya beberapa suap.
“Kak, ayah kenapa?” Tanya Rara polos. Resa menggeleng lemas. Ia mendekat dan mencoba merasakan detak jantung dan helaan napas Renaldi. Nyatanya sudah tak ada lagi tanda-tanda beliau masih hidup. Jantung Resa kini saling berpacu, berdebar layaknya tabuhan drum, mata bulat itu berkaca-kaca. Ia menatap Rara sesaat, dia mengerti. Tapi, apakah Rara akan mengerti juga? Resa tak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada adik sematawayangnya itu.
“Kak, kenapa? Ayah baik-baik saja kan? Ia hanya terlalu lelah dan akhirnya terlalu lelap tertidur? Begitu bukan? Ya sudah, biarkan saja. Aku tak tega jika harus membangunkan Ayah.” Resa tertunduk,
“Kita panggil saja dokter,” balas Resa dengan nada suara lemah.
Ia berlalu untuk memanggil dokter. Tak lama, ia kembali bersama pria dengan jas putihnya itu. Dokter terlihat mengecek kondisi Renaldi yang memang sudah ‘tak ada’.
Rara tertegun, matanya terbelalak, begitu saja ia menepis tangan Dokter yang hendak menutup seluruh tubuh Renaldi dengan kain putih. “Apa yang dokter lakukan? Dokter sudah gila! Ayah hanya sedang tidur. Apa dokter mau membunuh ayahku?” bentak Rara yang ikut membuat Resa terkejut.
“Sabar, ya, Nak. Ayahmu sudah meninggal dunia.”
“Dokter mengada-ngada. Mana mungkin! Kak, bohong kan yang dibicarakan Dokter itu? Bohong kan?” Rara tersenyum sinis sambil menatap tajam mata kakaknya. Resa memegang tegar pundak adiknya.
“Benar apa yang dikatakan Dokter. Ayah sudah meninggal, Ra.” Rara menatap kosong ke depan, rahangnya terasa mengeras, bibirnya bergetar, matanya memanas. Ia TAK PERCAYA!
“Tidak mungkin kak. Ini bohonggg…” Teriak Rara histeris. Rara berjalan lunglai menghampiri Ayahnya, ia mengguncang-guncangkan tubuh tak bernyawa itu.
“Ayah bangun, Yah. Ayah tak mungkin pergi. Iya, kan? Ayah sudah janji bukan akan mengajakku jalan-jalan? Dan mana janji Ayah sekarang? Ayo, Ayah… banguuunnn. Kumohon! Buktikan ucapan mereka salah Ayah…” ucap Rara terisak. Ia yakin ini hanya kesalahan. Resa memegang pundak Rara, air matanya berderai.
“Ikhlaskan Ayah Ra. Sabarkan hatimu.”
“Kakak itu salah! Aku tak percaya.!” Tubuh Rara terasa semakin melemas, hingga kakinya tak dapat menopang berat tubuhnya. Apapun yang ia lihat tiba-tiba menggelap dan hitam pekat.
“Rara…”

Hingga jasad Renaldi akan dikuburkan, Rara tak kunjung sadarkan diri. Resa menatap iba wajah adiknya itu, ia mengerti Rara begitu shock hingga ia tak mau percaya pada takdir yang telah terjadi. Resa membiarkan adiknya itu benar-benar tenang di alam bawah sadarnya. Jenazah segera diantarkan ke tempat pemakamam. Matahari siang menyambut rombongan yang ikut mengantarkan Renaldi ke tempat peristirahatan terakhir, tempat semua yang bernyawa akan mati. Agaknya cuaca pun mendukung. Resa berdiri berdekatan dengan liang lahat Ayahnya, menyaksikan proses demi proses penguburan pria yang akan selalu dikenangnya, hingga akhirnya tanah merah itu menimbun jasad kaku Renaldi. Bait-bait doa Resa lafadzkan, butiran hujan itu kembali menumpuk di sudut matanya hingga akhirnya ia tumpahkan. Bunga segar nan wangi ia taburkan. Rasanya kakinya berat untuk meninggalkan. Resa tersenyum mencoba ikhlas. “Ayah, semoga engkau bahagia di sana. Ya Allah, ampunkanlah dosa-dosa Ayah, terimalah ia di sisiMu,” lirih Resa dalam doa yang akan selalu ia untaikan di setiap sholatnya.
Satu minggu berlalu…
Rara berubah, ia menjadi pribadi yang pendiam dan banyak melamun. Terkadang menjadi sosok yang mudah marah dan tersinggung. Nilai-nilainya di sekolah pun menurun. Rara mencoba mendengar apa yang dikatakan kenyataan, tapi entah… hati dan logikanya menolak. Rara masih menganggap Ayahnya masih hidup. Masih bersamanya, seperti dulu. Resa sudah berusaha bicara, menyadarkan Rara, berharap Rara segera tersadar bahwa keyakinannya adalah salah. Mungkin memang hal yang sulit bagi Rara menerima kenyataan yang tergores jelas. Rara memang sangat dekat dengan sang Ayah, ia tak bisa jauh dari Ayahnya. Resa dan Rara sudah ditinggal sang Ibu setelah Ibunya melahirkan Rara. Ia begitu manja jika di dekat Ayahnya, sikapnya jadi kekanak-kanakan. Dan Rara sangat sangat menyayangi Ayahnya. Renaldi selalu memaklumi sifat anak keduanya itu. Ayah terhebat di mata Rara. Dan satu ketakutan, Rara lebih takut kehilangan Ayahnya dibanding bumi runtuh sekalipun.
“Ra, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Ikhlaskan, Ra. Ikhlaskan! Kamu tidak kasihan kepada Ayah, Ayah pasti akan sangat sedih. Kepergiaannya akan terasa berat. Ayah bukan milik kita seutuhnya. Ada yang lebih berhak dari kita.”
“Kak, kakak itu bicara apa? Ayah masih ada. Dia masih hidup!. Ayah hanya pergi untuk sementara. Dan akan segera kembali. Aku yakin itu!” balas Rara sambil berlalu ke dalam kamarnya. Resa hanya mampu menghela napas berat.
Di sekolah…
Andine menghampiri Rara yang sedang asyik membaca komik kesukaannya. Ia lantas duduk di bangku kosong di samping Rara. Bangku yang memang tempat duduknya.
“Ra, nilai-nilai kamu kok pada turun? Kenapa?” Andine mengawali pembicaraan.
“Hmm, aku terlalu capek, Dine,” jawab Rara sekenanya tanpa beralih dari komiknya.
“Hmm.. oh iya, aku turut berduka cita ya atas meninggalnya Ayahmu. Yang sabar, ya, Ra. Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan. Semua pasti ada hikmahnya dan memang inilah yang terbaik.” Mendengar omongan Andine, Rara langsung mengalihkan pandangannya kepada gadis berkacamata itu, pandangan tak suka.
“Kamu ngomong apa, sih, Dine? Kamu mendoakan Ayahku mati, begitu? Kenapa semua orang bicara seperti itu. Ayahku masih hidup!. Apa semua orang membenci Ayah, hingga semua orang berbicara hal yang sama?.” Rara beranjak dari duduknya. Andine menatap Rara aneh diikuti lipatan halus di keningnya.
“Lho, kok kamu malah marah, Ra? Aku hanya…”
“Ah… sudah. Semua orang memang jahat!”
Rara menagis ‘lagi’ di taman belakang sekolahnya, tempat yang Rara anggap pas untuk menyendiri. Mengapa semua orang berkata jika Ayahnya telah tiada? “Tidak!” Rara menggeleng. “Ayah masih hidup!” bathinnya. Mereka hanya iri melihat Rara mempunyai Ayah sehebat Renaldi. “Aku merindukan Ayah. Ayah cepatlah kembali. Buktikan pada mereka, Ayah masih hidup. Cepat kembali Ayah..”

Rara duduk di depan teras rumahnya dengan memajukan sedikit bibirnya ditemani Resa yang sedang asyik dengan kegiatan barunya, yaitu merajut sebuah taplak meja. Keahlian merajut yang ia dapat dari sahabat karibnya itu.
“Kak, kenapa semua orang termasuk teman-temanku di sekolah bilang jika Ayah sudah meninggal? Kenapa mereka jahat berkata seperti itu?” Rara mengulang pertanyaan yang masih mengganjal di otaknya. Resa mengalihkan pandangannya, rasanya hatinya pilu mendengar apa yang baru saja adiknya ucapkan. Rara belum sadar, dan akhirnya Resa memilih diam.
“Kak, kapan Ayah akan pulang? Aku sudah sangat merindukan Ayah?” Tanya Rara dengan wajah mendung. Resa kembali terdiam. “Ya Tuhan..” bisiknya.
“Ayah takkan pernah pulang sampai kapanpun, biarkan Ayah pergi dengan tenang, Ra. Kasihan Ayah,” Resa merasa sudah putus asa memberi pengertian kepada Rara.
“Kakak memang sama dengan mereka. Aku tak mengerti. Sungguh!”
“Kamu harus belajar untuk mengerti, Ra. Dunia ini bukan milikmu, termasuk Ayah. Coba mengerti!” Resa berlalu dengan air mata yang tiba-tiba saja turun lagi.

Rara terbangun dari tidurnya, merasakan sesuatu telah mengusik lelapnya. Rara meyipitkan matanya melihat sekelabat cahaya putih menerobos jendela kamarnya. Rara sedikit takut, tapi ia penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana. Kedua kakinya melangkah menghampiri jendela kamarnya. Dan… sreekkk… Rara terjerembab ke sesuatu tempat, tempat asing di dalam penglihatannya, tempat sunyi seperti hanya ada dirinya di sini. Namun, Rara tak dapat berbohong. Ia takjub dan jatuh cinta dengan tempat berupa taman yang indahnya Subhanallah, tempat yang Rara yakin takkan ia temukan di bumi. Tunggu… di bumi? Lalu ini di mana? Rara berdiri dan berjalan perlahan menyelusuri tempat aneh itu.
Telinganya samar-samar mendengar seseorang sedang terisak. Ia berjalan lagi dan lagi hingga seseorang itu di depan matanya. Mata yang seketika berbinar layaknya kerlap-kerlip bintang.
“Ayah…” lirih Rara sumringah. Pria yang benar-benar adalah Ayahnya. Ayah yang dirindukan Rara. Rara mendekat, ia ingin memeluk sang Ayah, namun seperti ada yang berbisik. “Jangan dulu.” Rara menuruti itu. Ayahnya menoleh, menatap mata anaknya. Mata berbinar itu seakan meredup melihat orang yang teramat Rara sayang menangis di hadapannya.
“Ayah, mengapa Ayah menangis?”
“Ayah menangis karenamu, Nak.”
Rara tersentak. “Apa salahku Ayah? Maafkan aku telah membuatmu menangis.”
“Rara sayang pada Ayah?” Tanya Renaldi.
“Ya, aku sangat menyayangi Ayah.”
“Jika Ya. Ikhlaskan kepergian ayah, Sayang. Ayah harus pergi karena Ayah telah di panggil Tuhan. Rara mengerti?” Rara tertuduk.
“Jadi apa yang dikatakan mereka benar?”
“Ya, Sayang. Melihatmu tak bisa merelakan Ayah membuat langkah Ayah untuk pergi terasa berat. Jika memang Rara sayang Ayah relakan Ayah untuk pergi. Tuhan begitu menyayangi Ayah begitupun Rara. Ayah memang tak bisa menjaga Rara seperti dulu, tapi ada Allah yang selalu menjaga Rara dan Kak Resa. Ayah memang takkan bisa Rara sentuh dan Rara lihat. Tapi, Ayah akan selalu bersama Rara. Karena Ayah akan selalu tinggal di hati Rara. Doa yang akan selalu menghubungkan kita. Ibu, Ayah, Rara dan Kak Resa.” Butiran-butiran bening itu meluncur mulus melewati lekukan pipi Rara. Rara merasa salah. Renaldi mengusap air mata itu dengan tangan kekarnya, begitupun Rara yang mengusap sisa-sisa hujan yang mengering di pipi Ayahnya itu.
Kini selengkung pelangi anggun dan cantik menghiasi bibir keduanya.
“Boleh aku memeluk erat Ayah untuk terakhir kalinya?” pinta Rara. Renaldi mengangguk.

Kelopak mata Rara terbuka, ia menggerakannya ke kiri dan ke kanan. Bibirnya yang lama tak tersenyum telah kembali. “Ayah.. maafkan aku,” lirih Rara. Ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju meja makan, Resa sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Resa menyadari kehadiran Rara di belakangnya.
“Ayah, Kak…” omongan Rara menggantung. Resa menatap Rara dengan menebak-nebak. Apa yang akan dikatakan Rara kali ini?
“Ada apa dengan Ayah?”
“Aku tahu selama ini aku terlalu salah, ayah sedih karena melihatku seperti saat itu. Aku sudah ikhlas merelakan Ayah pergi. Aku tahu Ayah bahagia di sana,” jelas Rara dengan mata yang berkaca-kaca. Resa tak percaya dengan apa yang diucapkan adikya itu. Alhamdulillah.
“Syukurlah, terima kasih Ya Allah,” syukur Resa. Kakak beradik itu saling berpelukan. “Ayah pasti tersenyum di sana. Aku menyayangi Ayah, selamanya,” bathin Rara.
Ayah, kau memang pahlawan pertama yang dikenal anak-anakmu. Bagiku kau adalah sosok lelaki terbaik, terhebat, dan sempurna. Semua memang terasa sangat berbeda, aku tak dapat lagi melihatmu, menyentuhmu, atau memelukmu. Tapi, satu hal yang akan tetap sama kau selalu tinggal di hatiku. Ayah, kau kisah terindah yang diberikan Tuhan untukku.

Namaku Rain seorang mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi swasta yang terkenal di Surabaya. 2 bulan lalu usiaku menginjak 20 tahun tetapi masih saja aku jomblo. Sial sekali nasibku sudah 2 tahun menjomblo.
Hari ini adalah hari pertamaku kuliah. Rupanya bel tanda masuk sudah berbunyi aku pun berjalan dengan gaya santai sambil menggunakan headshet. Tak sengaja aku melihat Kakak perempuan pembina OSPEK di depan, aku pun melepas headshet dan mengajak ngobrol dia, siapa tau dia tertarik kepadaku, hehehe aku tersenyum sendiri. “Misi Kak, aku mau nanya nih, ruang OSPEKnya dimana ya?” Dia menjawab “Di situ, di ruangan pojok yang terlihat banyak maharu berkumpul”. “Ohh di situ ya kak, Thank you ya kak. Oh ya nama kakak siapa? (dalam hatiku berkata lumayan lah bisa berkenalan dengan cewe cantik)”. “Aku Jane, sudah kamu kesana dulu, udah bel dari tadi loh kalau kamu terlambat bisa-bisa nanti aku hukum kamu loh hahaha” Aku pun menjawabnya dengan senyum lebar “Iyaa kak Jane thank you lagi ya”. Aku pun berjalan meninggalkannya.
Karena perutku lapar, dan aku belum sarapan tadi pagi aku pun memutuskan untuk pergi ke kantin dan nyamil sebentar. Kira-kira 5 menit aku berada di kantin, dan aku pun berjalan ke ruang OSPEK.
Sesampainya di ruang OSPEK aku mengintip lewat jendela, ternyata acaranya sudah di mulai. “Waduh gawat nih, moga aja waktu aku masuk gak ada yang ngelihat”. Aku pun membuka pintu perlahan-lahan tetapi pintu ini malah bersuara keras dan seketika itu semua mata tertuju padaku. “Hei kamu yang baru masuk, jam berapa ini acara sudah mulai kamu baru datang sana keluar” kata pembina ospek. Aku pun akhirnya di hukum di luar, aku di jemur di dekat tiang bendera. “Hah, seperti anak SD saja aku di hukum seperti ini” Tiba-tiba terdengar suara “Apa? Apanya anak SD?” Ternyata Kak jane datang dan membawa suatu kertas. “Eh Kak jane, panas sekali di sini, bantuin aku supaya bisa masuk lagi donk hehehe” Kata Kak Jane “bantuin masuk gimana? orang tadi di suruh cepet masuk kamu malah ke kantin dulu”. “Tadi aku laper kak, tadi pagi aku belum sarapan”. “Yah, salah kamu berarti tadi pagi nggak mau sarapan dulu” ujar kak Jane. “Iya deh iya, aku yang salah”. “Jangan lemes gitu donk, besok kamu udah boleh ikut OSPEK lagi kok, nih aku bawain kertas buat kamu kipas-kipas biar gak kepanasan hahahah”. “Seneng banget ya kak lihat orang kepanasan”. “Ya enggak lah, yaudah aku mau masuk dulu, Selamat berjemur ya”. kak Jane pun berjalan meninggalkan aku. “fiuhh, panas banget udaranya, besok aku gak mau ikut ospek lagi ah, males” kataku dalam hati.
Ahkirnya 2 hari OSPEK terlewati dengan tidur-tiduran dan mendengarkan musik di rumah, hahaha rasanya lega sekali terbebas dari ospek. Hari ini, hari pertamaku kuliah, hmm apa yang akan ku alami ya? benar-benar tidak sabar. Aku pun berangkat dari rumah dan sampai di kampus jam 6 lewat 20 menit, kampusku masih terlihat sepi, saat aku berjalan menuju ruanganku, aku bertemu dengan seorang perempuan, “Hai, siapa namamu?” tanyaku pada dia. Dia menjawab “Kenapa kau ingin tau namaku?, apa kita ada urusan?”. “Umm, nggak.. memang salah ya kalau mau tanya nama?” Aku mendekati bangkunya dan menatapnya. “Apa? Kenapa kau melihatku sampai segitunya? ada yang salah?”. Aku menjawab “tidak”. “Baiklah-baiklah, namaku Katie Greslan, sekarang kembalilah duduk di bangkumu”. “Hahaha, oke oke kat” Aku berjalan ke bangkuku, Aku sengaja memilih bangku di sebelah kanannya persis. “Wah, sejak kapan bangkumu di sini?” tanya Katie terkejut. “uhmm, ehmm, mungkin 10 detik yang lalu aku sudah duduk di sini” jawabku sambil tertawa kecil. Katie menjawab “grrr, oh iya, namamu siapa?”. “Aku?” jawabku. “nggak sebelahmu” kata katie. “Sebelahku? wihh jangan-jangan kamu bisa melihat yang aneh-aneh ya? isss serem banget” kataku mengerjainya. “grrr terserahlah” kata katie dengan jengkel, ia langsung memalingkan mukanya ke depan. “Wahahah, cewek, jangan gitu donk, hahaha.”
Tiba-tiba kak Jane, pembina ospek memasuki ruanganku. “heyy Rain” Kak Jane menyapaku. “Hey Kak, pagi kak hehehe” Aku menjawabnya dengan ramah. “Jalan yuk, di kelasku masih sepi” kata kak Jane kepadaku. “As long as it’s your wish I’ll do for you” kataku sambil tersenyum. “Hahaha, dasar kamu itu Rain rain” Kata Kak Jane sambil berjalan keluar. “Kita mau kemana ni kak?” tanyaku padanya. Ia menjawab “nggak tau jalan-jalan saja, oh ya panggil aku Jane saja gak usah pake “Kak”, kita kan Cuma beda 1 tahun.
Aku dan Jane berjalan-jalan sambil bercanda tawa sampai bel berbunyi, kami pun berpisah dan kembali ke kelas masing-masing. Sesampainya aku di ruang kelas, ruang kelasku ternyata sudah ramai. “Misi nona, apa bangku ini kosong?” Kata seseorang mahasiswa kepada Katie. Katie menjawabnya “uhmm iya mungkin kosong, tadi sih ada orangnya, tapi tau tuh orangnya ngilang, duduk aja di sini”. Aku langsung berkata “Oi oií itu punya gua bangkunya, sorry ya aku uda duluan tadi”. Dia menjawab “Yoi santai aje Bro, gua duduk di belakang lu aja dah”. “Yah terserah lu sih” Kataku. “hei katie, kok kamu bilang bangkunya kosong sih, kan ada aku” kataku kepada katie. Ia menjawab “oh iya aku lupa, maaf ya rain”. “Okay, santai aja”
Tidak lama kemudian dosenku datang. Saat memperkenalkan diri pun tiba, tiba-tiba namaku yang di sebut pertama “Rain, maju perkenalkan dirimu pada temanmu” kata dosenku. “Oke guys, namaku Rain Stew, kalian bisa memanggilku Rain saja, umur 20 tahun, tinggal di jalan kembang api 22, Status gua single lohh?” kataku supaya suasana tidak bosan. “Hahaha, ngapain pake status bro?” kata salah satu mahasiswa. “Biarin bro, kali aja ada yang minat” aku menjawabnya sambil tertawa. Teman-temanku tertawa.
Saat perkenalan selesai kini saatnya pelajaran berlangsung, karena aku bosan dengan dosennya aku melamun dan tertidur, tiba-tiba penghapus papan melayang ke kepalaku. Aku pun terbangun karena refleks, semua teman-temanku menertawaiku. Jam demi jam kulewati dengan rasa ngantuk ini, setelah menunggu sekian lama bel pulang pun berbunyi. “kat katie, pulang bareng siapa?” tanyaku. “uh? aku? akuu.. hmm akuu, aku jalan ke kos-kosanku.” “hmm jadi kamu kos.. Ya udah ayo aku anter pulang, mumpung aku bawa motor nih” kataku. “Nggak usah kos-an ku deket kok, jalan aja juga uda nyampe kok”. kata katie menolak. “Udahlah nggak usah nolak lagi, ayo aku anter”. Dengan susah payahnya aku membujuknya ahkirnya dia pun mau. Aku pun tidak langung mengantarnya pulang, tetapi aku membawanya ke suatu restaurant.
“Eh? kenapa kita kesini rain?” tanya katie heran. Aku menjawab “Aku lapar, makan dulu ya baru pualng”. Katie hanya menjawab iya, aku tau dia tidak mempunyai pilihan lain hahaha, aku tertawa dalam hati. “Silahkan pesan nona Kati Greslan” kataku menggodanya. “Nona? emang aku sudah tua gitu ya “. “Hahaha nggak lah, Mas pesen Sirloin steak sama Jus apukat ya” kataku. “Baiklah, Nona pesan apa?” Kata pelayan itu. “Uhmm, Saya pesan nasi goreng sama es jeruk manis hangat.” Kata katie. “He? Es jeruk manis hangat? mana bisa make es tapi hangat? hahaha” kataku kepadanya. Katie menjawab “Oh iya hehe es jeruk manis mas maksud saya”. Setelah kami selesai makan, kami bercanda tawa sampai lupa waktu, ternyata jam sudah menunjukan pukul 18.05, fiuhh 1 jam ngobrol sama katie, menyenangkan juga. Aku pun mengantarkannya pulang, dan aku sampai ke rumahku sekitar jam 8 lewat. Aku pun berbaring di tempat tidurku, aku membayangkan kejadian-kejadian selama sehari penuh ini.
Beberapa hari setelah aku kuliah, tidak ada yang spesial, kini aku mendapatkan tugas berkelompok, otomatis aku memilih katie sebagai patnerku. Tugas kami berlima ialah membuat mading, mading-mading terbaik akan di pamerkan di SMA SMA ternama, maka aku dan katie sangat bersemangat dalam hal ini. Kami pun di beri waktu di jam tertentu untuk mulai mengerjakan mading, tak sengaja tangan katie terkena pisau, aku pun langsung keluar dan berlari menuju ruang UKS. Setelah aku mendapatkannya, aku pun segera berlari kembali ke ruang kelas dan mengobati tangan katie yang berdarah, “Hosh hosh, katie sini aku obatin tangan kamu” Kataku padanya. Ia menjawab “Kamu kenapa rain kok ngos-ngosan?”. “Udah gak papa sini” kataku sambil menariknya. Aku pun mengobatinya, tidak tau kenapa aku begitu khawatir padanya, apa aku sudah jatuh cinta padanya? huss, kalau aku jatuh cinta padanya bagaimana Jane, aku tak mau menyakiti mereka berdua. Eh hahaha emang Jane menyukaiku? Emang ada-ada saja aku ini. Seperti biasa hari ini aku mengantar Katie pulang ke kos-annya. Semakin hari hubunganku dengan katie makin akrab, sementara itu aku sudah lama tak berhubungan dengan Jane, bagaimana ya dia? Hmm sudahlah, mungkin dia sudah punya pacar, sekarang aku harus fokus pada katie. Aku harus memperjelas hubunganku dengannya. Aku benar-benar jatuh cinta padanya, kini saatnya mencari waktu untuk menembaknya
Suatu saat, saat mading mereka menang, mereka mengadakan perayaan bersama-sama sekelompok. Mereka merayakan saat malam bulan purnama. Saat itu aku menyetel lagu “Just the way you are” aku menarik tangan katie dan mengajaknya dansa, aku dan katie berdansa di temani oleh bulan yang indah dan musik yang romantis, Aku sengaja semakin mendekat ke katie, katie pun kaget dan berusaha mundur, tetapi aku tak membiarkannya, aku membisikinya dengan perlahan “Maukah?”. Aku langsung berlutut dan mengelurakan kotak berisi kalung emas, aku menyatakan perasaanku padanya, saat itu pula aku menepukan tanganku, maka teman-temanku keluar dan membawakan seikat bunga per orang, mereka membawa bunga-bunga itu ke katie sesuai rencanaku. Aku melanjutkan kata-kataku “Katie.. Maukah kau menjadi pasanganku?”. Aku melihat Katie sudah menutup mulutnya dan tersenyum, apa artinya ya? hatiku bertanya-tanya. Katie menjawab “Aku.. akuu.. As long as it’s your wish I’ll do for you”. “Itu? berarti kamu mau donk? hahaha yess, sini aku pake’in kalungnya sebagai tanda cinta kita”. “Rain, thanks ya, kejutanmu, kasih sayangmu, perhatianmu, atas semuanya kucucapkan terima kasih” Kata katie kepadaku.
Suatu hari Saat malam tiba entah kenapa aku ingin bertemu dengan katie, dengan alasan apa tapi aku menemuinya, hmm aku akan alasan membicarakan pelajaran sip berangkat. Sebelum aku menuju rumahnya, aku membeli nasi goreng untuknya. Sesampainya di kos-annya aku mengetuk kamarnya. “Katie, katie, aku Rain, aku ke sini ingin membicarakan pelajaran denganmu, bukakan pintunya donk” “Rain? malam-malam begini ngapain kamu kesini? emang madingnya nggak bisa besok ya? hufft, ya udah ke taman kita ngobrol di situ.” katie menjawabku sambil menguap.
Aku memberikan nasi goreng yang tadi kepadanya, kebetulan katanya dia belum makan, memang ikatan cinta begitu kuat hahaha aku tertawa dalam hati. “Makasih ya rain makanannya, aku berhutang banyak padamu, oh ya kamu mau bahas yang tadi?” tanya katie. Aku menjawab bla bla bla secara panjang lebar dan rumit, karena sebenarnya aku bingung mau bertanya apa. Ternyata Katie tertidur di pundakku, kenapa jantungku berdetak kencang, meskipun aku dan dia sudah berhubungan selama 2 minggu ternyata aku masih nervous. Karena sudah malam, dan di sini banyak nyamuk, aku mengendong Katie dengan perlahan-lahan, aku takut aku membangunkannya, aku meletakannya di kamarnya, aku menyelimutinya dan berkata dengan pelan “Sweet dream dear” dan aku segera keluar.
Hari demi hari, bulan demi bulan ku lewati dengan bahagia bersama katie, walaupun kadang kami bertengkar, kami saling ngambek, tetapi itu tidak meruntuhkan hubungan kami. Tak terasa hari ini ialah ulang tahun Katie, rencananya aku ingin memberikan surprise. Tetapi..
Saat aku berjalan membeli bunga untuknya tiba-tiba kios itu runtuh, dan ada besi yang mau menimpaku. Aku pingsan, dan saat aku terbangun aku sudah ada di rumah sakit, tapi kenapa tubuhku tidak terasa sakit sama sekali? saat aku menoleh, aku melihat Jane!! Iya benar aku melihat Jane terbaring dengan tangannya di perban, aku menghampirinya. “Janeee!! Janeee!! Kamu kenapa? tanganmu itu kenapa?”. “Rain,” Jane memanggilku dengan perlahan.
Seorang saksi berkata padaku bahwa Jane yang menyelamatkan nyawaku dan karena menyelamatkanku sekarang tangan kirinya tak berfungsi lagi. Aku benar-benar menyesali kecerobohanku, kenapa? KENAPA harus Jane yang terlukaa? KENAPA TUHAN?. Aku benar-benar emosi saat ini. “JANEE!! Kenapa sih kamu mesti nyelametin aku?”. “Rain, aku sayang sama kamu, aku sayang kamu sebagai sahabat Rain”. “JANEE!! kenapa kamu ngelakuin hal bodoh ini?”. “Apa itu jawabanku kurang memuaskanmu Rain?”. “Jane, maaf kalau aku membentakmu dari tadi.. Aku ingin pergi sebentar, jaga dirimu” Aku berjalan meninggalkan Jane.
Walau hujan turun takkan mengurungkan niatku untuk bicara pada Katie, saat aku sampai di rumahnya, aku lihat dia bahagia dengan surprise yang kuberikan, tetapi surprise yang terahkir ini belum tersampaikan, aku takut tak bisa menyampaikannya. Aku hanya berdiam di depan rumahnya, hanya menggenggam mawar merah di temani hujan yang lebat, aku.. aku hanya menggenggam mawar ini erat-erat dan aku.. aku mulai meneteskan air mata, aku hanya meninggalkan bunga mawar dengan secarik kertas. Aku menelpon salah satu sahabat karibku dan menceritakan semuanya, aku meminta supaya ia membuat katie jatuh cinta padanya, supaya katie bisa melupakanku, dan aku bisa menebus kesalahanku.
Aku kembali ke rumah sakit dengan keadaanku, Jane melihatku dengan sedih “Rain, kamu kenapa? tanganmu berdarah? apa yang terjadi Rain?” Jane bertanya padaku. “Aku tak apa-apa, kau istirahatlah”. Aku duduk di sampingnya dan menceritakan lelucon-lelucon seolah-olah kami bercanda biasanya, aku menemaninya sampai ia tertidur, tak lama aku pun tertidur, dan saat aku bangun, tubuhku sudah terselimuti. Padahal tadi malam aku tidak memakainya. Aku membuang ponselku agar katie tak bisa menghubungiku, aku tau bahwa aku pengecut, tapi aku tak bisa meninggalkan Jane dengan keadaan seperti ini.
Saat keadaan Jane membaik, aku mengantarnya ke kampus, walaupun biasanya aku selalu bersama katie, tetapi kini Jane yang ada di posisiku, saat aku sampai aku melihat katie dengan sahabatku berdua, Katie menghampiriku dan menamparku, aku tau aku salah, tapi yang kuinginkan sekarang hanya membahagiakan JANE, tak peduli resikonya, aku hanya ingin membahagiakan dia, karena dia aku masih berdiri di sini. Aku hanya diam. “Rain! Katakan padaku siapa dia?” bentak katie padaku. “Dia adalah wanita yang kucinta, dia baru mengalami musibah, jadi sopanlah padanya” kataku sambil memendam rasa sakit dalam hatiku. “Rain!! Aku kecewa padamu” Sekali lagi katie menamparku, walaupun aku sakit, aku hancur, aku rapuh, semuanya tak bisa kuungkapkan hingga Jane sembuh kembali. Kami selalu berjalan bersama, sesekali aku bertemu dengan katie yang tertawa gembira bersama sahabatku, walaupun itu sakit bagiku, tapi kalu itu membuat Katie lebih bahagia sekarang, apa pentingnya perasaanku sendiri, yang penting orang lain di sampingku bahagia.
Suatu hari aku dan Jane bertemu pacar Jane yang baru datang dari belanda. “Jane? Siapa cowok ini? cowok kamu? Ohh bagus, di tinggal 1 bulan aja udah selingkuh? bagus banget lu, tuh tangan lu kenapa? Gara-gara lu selingkuh mungkin itu hukuman dari Tuhan buat lu”. Aku memotong pembiacaraanya “STOPP!! Jaga tuh mulut lu”. Aku melihat Jane menangis, dan ia tak bisa berkata-kata lagi. “Udah yah lu gak usah ikut campur, ini urusan gua sama si tangan satu ini?”. “JAGA mulut lu” Aku membentaknya dan hampir memukulnya, kalau Jane tidak memanggilku, sudah habis dia. Aku sadar bahwa perbuatanku membuat hatinya jadi tambah kacau, aku ahkirnya berbalik badan dan memeluknya erat-erat dan berkata “Jangan bersedih, aku takkan membuatmu menangis, ikutlah aku”. Setiap hari aku merawatnya, aku selalu membahagiakannya, tak pernah aku menyakitinya, walau sebenarnya hatiku ini hancur karena aku hanya bisa diam melihat katie yang akan bertunangan. Berbagai cara kulakukan untuk membahagiakan Jane. Mungkin jika aku membahagiakan orang lain terlebih dahulu kelak aku kan mendapat kebahagiaan yang utuh. Selama 2 tahun aku dan Jane selalu bersama, aku selalu memberikan apa yang ia mau, ahkirnya aku sadar perasaanku ke Katie hilang, dan aku memutuskan untuk hidup bahagia selalu bersama Jane.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar